Selasa, 04 Desember 2012

KEWARGANEGARAAN

                             
HAM WANITA PALESTINA
                       
A. KONFLIK BANGSA ISRAEL DAN PALESTINA
31 tahun, Israel menyerang Mesir, Yordania, Syria dan berhasil merebut Sinai dan Jalur Gaza (Mesir), dataran tinggi Golan (Syria), Tepi Barat dan Yerussalem (Yordania).
 Konflik terjadi karena ketidaktegasan penjajah dalam membagi wilayah,” ujar pengamat hubungan internasional Universitas Indonesia (UI) Nurani Chandrawati. Penyerangan-penyerangan di antara kedua belah pihak selalu terjadi. Pihak Israel beralasan mempertahankan diri dari serangan Palestina dan tentara Hamas, sedangkan dari pihak Palestina mengadakan perlawanan karena wilayahnya semakin sempit direbut rezim zionis dengan pendudukan bersenjata maupun mendirikan pemukiman-pemukiman yahudi dengan cara merampas tanah rakyat Palestina. Sejak berdirinya  Palestina secara resmi pada tanggal 15 Nopember 1988,  negara Arab semakin melemah terhadap perjuangan bangsa Palestina menghadapi rezim zionis yang didukung mutlak oleh Amerika Serikat (AS). Israel mendapat dukungan penuh dari Inggris, karena sesuai dengan politik imperialisme Inggris. Berawal dari pemikiran tersebut, para zioni membuat strategi bersama sekutunya untuk menaklukan negara Palestina.

        Palestina merupakan salah satu  tiga daerah suci umat Islam, setelah Mekah dan Madinah. Disini terdapat masjid suci umat Islam (Masjidil Aqsa). Palestina adalah pemilik asli tanah ini. Pada tahun 1948, Israel memproklamasikan diri menjadi sebuah negara di Palestina. Keadaan ini otomatis membuat perang secara luas, karena bangsa Palestina tidak terima tanah airnya diambil oleh Israel, apalagi, Palestina adalah kota suci umat Islam. Sehingga muncullah gerakan perlawanan (PLO). Organisasi ini bertujuan untuk menjadikan negara Palestina merdeka. Dipihak lain muncul gerakan perlawanan Hamas yang mengambil ideology Agama Islam sebagai basis perjuangan (jihad).RA

B. ZIONIS ISRAEL PENJARAKAN 10 RIBU WANITA PALESTINA
Penyiksaan Sistematis
 Zionis Israel tidak membedakan antara tawanan laki-laki dan tawanan perempuan. Sebab, tawanan perempuan  menghadapi pemukulan, penghinaan, intimidasi, dan perlakuan kejam. Sebagaimana pada unit tentara Zionis Israel tidak disertai dengan seorang tentara perempuan yang akan bertugas untuk menangkap kaum perempuan. Dipaparkan kesaksian tawanan perempuan, Qahirah Saadi, seorang ibu dari empat anak. Ia dijatuhi hukuman seumur hidup sebanyak tiga kali, di samping dijatuhi hukuman selama tiga puluh tahun. Ia mengatakan bahwa selama dalam penjara para tentara Zionis Israel, ia sering dipukuli, dicaci, dan dilecehkan dengan derbagai bentuk penghinaan, dengan menyebutnya sebagai perempuan keji dan kotor. Ia mengatakan bahwa setelah ia ditangkap oleh tentara Zionis Israel, maka ia dipukuli dengan popor senapan, diinterogasi dalam keadaan telanjang, ditempatkan di tempat menakutkan selama beberapa hari sambil tangan dan kaki diikat pada kusi dalam sebuah ruang tahanan yang sepi dan sunyi. Tempat ini merupakan pusat interogasi para kepala sipil penjara yang ada di Al-Quds (Yerusalem) yang diduduki Zionis Israel. Saadi juga menjelaskan bahwa kemudian ia dipindahkan ke penjara bawah tanah tanpa cahaya, yang sangat lembab sekali, dan penuh dengan kecoak, serangga dan juga tikus. Ia dimasukkan dalam penjara bawah tanah selama sembilan hari.

Penderitaan Terus Berlanjut
Tawanan perempuan mengadukan kondisi dalam penjara. Mereka  diperlakukan sangat kasar dan kejam. Mereka mengeluhkan bahwa hidup sangat berdesak-desakan di dalam ruang penjara, penyebaran penyakit kulit akibat kelembaban yang tinggi, dan mereka tidak mendapatkan pelayanan pengobatan (kesehatan) yang layak dari manajemen penjara. Penderitaan bagi para tawanan perempuan yang telah menikah adalah dua kali lipat. Keadaan tawanan perempuan yang dibebaskan, Khawlah Muhammad Zitawi,  ditahan setelah suaminya, di mana ketika ditahan ia meninggalkan dua anak perempuan yang masih kecil. Dan selama tujuh hari dalam penjara ia mendapatkan berbagai model penyiksaan psikologis dan fisik. Seorang perempuan pernah merasakan kejamnya penjara Israel. Ia berkata: “Saya ditempatkan di ruang sepi dan menakutkan sendirian di atas kursi. Kedua tangan saya diborgol ke belakang selama berjam-jam. Kemudian saya diinterogasi dengan alat pendeteksi kebohongan beberapa kali, dan pada saat diinterogasi itu saya pingsan. Sehingga, tiba-tiba saya merasa bahwa saya sudah ada di rumah sakit, dengan kedua tangan dan kaki saya diborgol, dan kedua mata saya juga ditutupi. Penculik itu mengancamnya, dengan ancaman bahwa ia selamanya tidak akan  melihat anak-anaknya, kecuali ia mengakui apa yang dituduhkan terhadap dirinya.

Tidak Boleh Ada Kunjungan
Beberapa tawanan perempuan mengatakan bahwa anggota keluarga mereka tidak dapat mengunjunginya, bahkan berbicara melalui telepon sekalipun tidak diperbolehkan.

SOLUSI
"Hendaknya ada upaya nyata untuk pembebasan tahanan Palestina di Israel dan mengakhiri penderitaan mereka," kata Presiden Wanita Parlemen Uni Inter-Parlemen (IPU) yang juga anggota DPR-RI Nurhayati Ali Assegaf. Menurut Nurhayati, upaya DPR RI untuk mendukung perjuangan rakyat Palestina dilakukan melalui diplomasi di forum-forum parlemen regional maupun internasional.
Wanita diciptakan untuk dilindungi, dijaga, diayomi. Itu merupakan Hak Asasi Manusia yang harus diperjuangkan. Wanita juga diciptakan sebagai makhluk istimewa, dikuatkan bahunya untuk menjaga anak-anaknya, dilembutkan hatinya untuk memberi rasa aman, dikuatkan rahimnya unntuk menyimpan benih manusia, diteguhkan pribadinya untuk terus berjuang saat yang lain menyerah, diberikan naluri untuk mencintai anak-anak dalam keadaan apapun, dikuatkan batinnya untuk tetap menyayangi walau dikhianati, walau disakiti. Karna wanita makhuk yang sangat kuat. diberikan air mata untuk membasuh luka batin dan memberi kekuatan baru.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar